Adaptif dan Tangkas Jadi Kunci Untuk Lolos Pandemi Covid-19

JAKARTA - Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh menekankan pentingnya menyesuaikan diri dan ketangkasan dalam menghadapi pandemi Covid- 19 terutama dalam sektor pelayanan publik. Hal tersebut diutarakanya dalam Orasi Ilmiah Wisuda Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) Jumat (16/10).

Ateh menyampaikan, selama beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum pandemi ini menjangkit ke seluruh dunia, gagasan untuk menciptakan adaptive dan agile organization sebenarnya telah banyak disampaikan oleh para ahli. Tidak terkecuali pada sektor publik, yang tentunya tidak lepas dari dampak atas perubahan-perubahan yang berciri disruptif.

"Adaptive organization mengharuskan adanya adaptive governance yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangani permasalahan sosial yang kompleks yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, beragam kepentingan, dan ketidakpastian yang terjadi di masa yang akan datang," katanya.

Menurutnya, konsep “adaptivity” sering disamakan dengan “agility”, meskipun sebenarnya keduanya tidak sepenuhnya sama. Adaptivity mengacu pada kemampuan umum organisasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang merupakan syarat untuk terus survive di masa-masa yang akan datang. Adapun agility lanjut dia, mengacu kepada ketangkasan atau kemampuan operasional organisasi untuk merespon permasalahan dan perubahan secara cepat dan mudah. Dalam kondisi krisis seperti ini menjadi organisasi yang agile merupakan kebutuhan untuk dapat beradaptasi.

Oleh karena itu kata Yusuf Ateh, syarat pertama yang harus dimiliki oleh pemerintah dan organisasi lain pada umumnya untuk menjadi organisasi yang agile adalah perubahan paradigma dalam memandang organisasi. Agile organization akan memandang organisasi sebagai “living organism” tidak hanya sebatas “machine”.

Paradigma lama yang menganggap organisasi sebagai mesin sangat kental dengan nuansa yang birokratis dan hirarkhis. Organisasi tersebut memiliki banyak standar prosedur dan instruksi yang detail dan kaku, serta terbiasa bekerja secara silo dan fragmented.

Sedangkan pada organisasi sebagai “living organism” kesan hirarkhis dan birokratis hilang, sebaliknya pola hubungan dan komunikasi dilakukan secara linier berdasarkan pada akuntabilitas dan kinerja. Fokus organisasi adalah pada aktivitas yang secara efektif dapat mendorong peningkatan kinerja, tidak lagi pada tugas fungsi dan kotak organisasi.

"Organisasi ini juga diisi oleh sumber daya yang fleksibel dan mudah merespon perubahan," tambahnya.

Ateh menjabarkan, Mc Kinsey menyebut, bahwa agile organization memiliki karakter atau ciri pada lima hal dalam organisasi yaitu pada strategy, structure, process, people, dan technology.

Pada Strategy, agile organization berfokus pada pencapaian visi-misi-tujuan organisasi. Melalui kemampuannya melihat kesempatan, organisasi yang agile akan menetapkan aktivitas yang dianggap efektif. Selain itu, pemilihan strategi akan didukung oleh alokasi sumber daya yang relatif fleksibel dan tidak kaku.

Sedangkan, pada aspek Structure, organisasi ini akan memfokuskan pada penguatan jejaring antar tim. Peran yang dimainkan oleh setiap tim akan didasarkan pada akuntabilitas dan kinerja. tidak memiliki struktur yang hierarkhis dan birokratis, karena fokusnya adalah pada keberhasilan tim untuk mencapai tujuan organisasi.

Selanjutnya, pada aspek Process, keputusan yang dibuat oleh organisasi dilakukan secara cepat. Cara kerja terstandardisasai dan berorientasi pada kinerja bukan prosedur. Informasi terkait organisasi juga dapat diakses secara transparan. Organisasi ini juga merupakan organisasi pembelajar.

Sementara pada aspek People, sumber daya manusia dalam organisasi ini diarahkan untuk bertindak dengan nilai-nilai entrepreneurship. Cara kerja individu dalam organisasi tangkas, cepat, dan dinamis. Hubungan antar individu dalam organisasi kuat karena setiap individu merasa menjadi bagian utama dari tim.

Dan terakhir pada aspek Technology, organisasi ini tidak resisten terhadap perkembangan teknologi. Media kerja sebagian besar telah menggunakan teknologi informasi.

"Menciptakan pemerintah untuk menjadi agile organization tentunya tidak akan mudah. Banyak tantangan yang perlu dihadapi baik pada aspek mental model dan budaya kerja para pejabat dan aparatur sipil negara, aspek struktur organisasi dan cara kerja, maupun kompetensi dan kualifikasi aparatur sipil negara,"ungkapnya.

Namun demikian ia terus menggelorakan untuk keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19 ini, pemerintah mau tidak mau harus memaksakan diri dan mulai belajar untuk menjadi organisasi yang adaptive dan agile.

Di tengah keterbatasan yang dimiliki pemerintah, harus diakui bahwa sampai dengan saat ini, telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ini.

"Upaya tersebut telah dilakukan sejak awal dan masih bergulir sampai dengan saat ini. Pemerintah sebisa mungkin bekerja secara cepat, tepat, dan akuntabel," pungkasnya.

 

(Kominfo/Rizky)