Auditor Internal di Masa Depan: Cakap Teknologi dan Baik Budi

.

CIAWI (15/9) – Dinamika lingkungan dan revolusi industri saat ini menuntut auditor internal untuk adaptif agar perannya dapat terus relevan. GIA Corpu menginisiasi pelaksanaan webinar dengan tema “Tren Peran Auditor dan Kompetensi Auditor Intern di Masa Depan” yang dapat diikuti APIP secara virtual di seluruh Indonesia. Webinar ini diharapkan dapat membantu APIP memahami arah perubahan dan meningkatkan kompetensi.

Sekretaris Utama BPKP Ernadhi Sudarmanto dalam keynote speech-nya menyampaikan urgensi hadirnya auditor internal yang bermanfaat diharapkan mampu memberikan hasil pengawasan yang bernilai tambah bagi stakeholder peramu kebijakan. Untuk itu, auditor internal pemerintah harus berbenah diri mengembangkan hard skill dan soft skill sesuai dengan kerangka kerja pengembangan kompetensi auditor.

“BPKP hadir mendukung pengembangan skill auditor ini melalui GIA Corpu. Di tengah pesatnya arus informasi, haus akan ilmu dan keep up perkembangan lingkungan jadi syarat auditor internal,” ujarnya. Ia pun mengajak para peserta untuk terus memperluas cakrawala ilmu, meningkatkan kualitas hasil pengawasan, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Mendukung harapan tersebut, Peter Best selaku Head of College of Business pada Central Queensland University memaparkan implementasi data analitik dalam pendeteksian fraud. Peter menunjukkan bahwa data analitik merupakan keunggulan kompetitif yang harus dimiliki auditor internal dalam mengidentifikasi gejala-gejala fraud.

Namun, isu kompetensi ASN bukan persoalan mudah. Deputi Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian PANRB Alex Denni menekankan pentingnya revolusi mindset untuk meningkatkan kinerja dan kapasitas ASN, termasuk ASN auditor internal. “Transformasi harus dipercepat, tidak hanya struktur tapi juga budaya kerja dan digitalisasi. Pembangunan ASN perlu perubahan perilaku,” tegasnya.

Hal ini juga diamini oleh Suryaningrum, selaku Chief Audit and Risk Management Advisory pada Astra Autoparts. “Mindset dan budaya inovasi adalah dua hal pertama yang harus dibangun,” jelasnya. “Auditor internal diharapkan proaktif dan ‘nempel’ dengan operasional untuk memitigasi risiko, baik itu risiko strategis, reputasi, dll.”

Menjawab tantangan tersebut, Kepala Pusat Pembinaan JFA BPKP Iwan Agung Prasetyo menyebutkan bahwa ke depan mungkin akan disusun sertifikasi manajemen risiko bagi APIP di Indonesia. Hal ini mengingat manajemen risiko menjadi salah satu core competency yang masih harus ditingkatkan oleh 512 organisasi APIP di Indonesia. Terlebih tugas auditor internal yang mendorong pencapaian tujuan, tentunya tidak lepas dari kemampuannya membantu manajemen memitigasi risiko.

Di samping itu, dikatakan Iwan, hingga kini masih banyak isu terkait pengembangan kompetensi auditor, baik itu gap di unit APIP maupun kompetensi yang tidak utuh antara sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge).

“Selama ini banyak pengembangan kompetensi pada konteks knowledge, tapi kita juga perlu pengembangan kompetensi di sisi attitude dan skill. Integrasi kompetensi ini adalah tanggung jawab bersama,” kata Iwan.

(Kominfo BPKP/NK/SA)